Human Relationship pada pengembangan mutu Program Da’ipreneur di Lembaga Pendidikan Islam Darul Khair Jember
Oleh;
(Mahasiswa S-3 UIN KH Ahmad Sidiq Jember, NIM. 253307010002)
Human
Relationship pada
pengembangan mutu Program Da’ipreneur di Lembaga Pendidikan Islam
Darul Khair Jember merupakan salah satu Penugasan pembuatan meraih gelar Doktoral
pada program Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Penulisan tugas tidak terlepas
dari lika-liku dan tantangan yang dihadapi sebagai gagasan, ide, cakrawala
knowlage, hikmah dan Ibroh dalam perjalanan tokoh da’i seperti H.O.S Cokrominoto,
K.H. Ahmad Dahlan, H. Agus Salim dan KH. Hasyim As’ari dan seterusnya mereka
membawa sebuah perubahan yang lebih baik dan mempunyai Karismatik dalam jiwa
Da’i yaitu Human Relationship. Karismatik tokoh islam indonesia sebagai
Da’i sekaligus punya jiwa usaha (Preneur) sehingga tumbuh kemandirian dalam
berdakwah yaitu Da’ipreneur. Berdakwah dalam kehidupan merupakan gagasan dan
ide terus berkembang yang dilanjutkan dalam Human Relationship dan Education
Humanistik di Lembaga Pendidikan Islam (LPI).
Human
Relationship memiliki relevansi dengan mengembangkan mutu Lembaga Pendidikan
Islam (LPI) pada dasarnya berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik
dan kemerdekaan individunya. Da’ipreneur sebagai wadah dakwah atau
penda’i yang memiliki Kemandirian atau Independensi berdakwah, ruang bebas pada
peningkatan dan pengembangan kemampuan melalui proses bimbingan, pengarahan,
penanaman, serta penguatan yang dilakukan oleh seorang pendakwah dengan
memasukkan muatan nilai keagamaan dan keberagaman. Konsep Human Relationship
pada mutu Pendidikan Humanistik dan Relevansi. Peran Human Relationship dalam
meningkatkan mutu Program Da’ipreneur di Lembaga Pendidikan Islam (LPI).
Kata Kunci: Human
Relationship, Program Da’ipreneur, LPI Darul Khair
Latar Belakang
Human relationship dalam organisasi
menciptakan hubungan yang positif antara semua anggota tim, memastikan
komunikasi yang efektif, mengelola konflik dengan bijaksana, dan membangun
budaya kerja yang inklusif. Ini membantu meningkatkan produktivitas,
meningkatkan retensi karyawan, dan menciptakan lingkungan di mana setiap
individu merasa dihargai dan didukung. Dengan fokus pada hubungan manusia yang
baik, organisasi dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, memperkuat
kepemimpinan, dan bersama. menciptakan atmosfer kerja yang positif untuk
pertumbuhan dan kesuksesan.
Berbicara
Human Relationship sebagai mutu pendidikan program Da’ipreneur merupakan
sesuatu hal yang tak berujung kemandirian karena pendidikan itu sendiri merupakan suatu proses tanpa akhir dan sepanjang hidup. Pendidikan
yang dimiliki setiap individu sangat menentukan sekaligus dapat mewarnai
perjalanan hidup dalam menggapai masa depan karena semakin tinggi pendidikan
maka seseorang akan lebih mudah memahami realitas kehidupan sedangkan bagi
individu yang tidak memiliki pendidikan maka kemungkinan akan mengalami
kesulitan dalam memahami realitas kehidupan dan mempengaruhi masa depan.
Salah
satu organisasi yang memerlukan human relationship yang baik adalah Lembaga
Pendidikan Islam atau Ponpes atau sekolah. Hal ini dikarenakan organiasi
pendidikan yang erat kaitannya dengan interaksi manusia. Di lingkungan Pesantren
atau sekolah, hubungan antara siswa, guru, staf administrasi, orang tua, dan
masyarakat luas sangat penting. Human relationship membantu menciptakan iklim
yang kondusif bagi pembelajaran dan pengembangan pribadi. baik pengembangan
lembaga Pendidikan Islam atau pesantren di Yayasan Darul Khair dengan
menerapkan pengembangan mutu Lembaga Pendidikan Islam pada Program Da’ipreneur
di Yayasan Darul Khair.
Da’ipreneur
yaitu; calan penda’i (pendakwah) dari santri pesantren yang ikut program
pengabdian 1 tahun setelah di nyatakan lulus mondok untuk mengabdi di
masyarakat. Calon Da’i atau Guru ngaji, guru (Pendamping) dan Mentor /
Instruktur (Pendidik) memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil uji
kompetensi Da’ipreneur dalam kompeten kemandirian wirausaha. Da’ipreneur
sebagai penggerak organisasi besar punya human relationship dan jiwa
Da’ipreneur sehingga ada hubungan yang baik dan terbuka antara keduanya dan
menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, mendukung, memotivasi, dan
memfasilitasi pertukaran pengetahuan serta pengalaman yang penting untuk
pengembangan profesional pendidik di masyarakat.
Human
Relationship Program Da’ipreneur yang memperhatikan kebutuhan berbagai elemen,
memberikan saling dukungan, dan memfasilitasi kebutuhan dan pelatihan serta
pengembangan diri untuk meningkatkan kualitas kemandirian wirausaha dan hasil
uji kompetensi secara keseluruhan. Sebaliknya, ketidak harmonisan berbagai
elemen atau ketegangan antara Da’ipreneur (Calon Da’i atau Guru ngaji), guru
(Pendamping) dan Mentor / Instruktur (kepala sekolah) dapat menghambat
kolaborasi, motivasi, dan pertumbuhan profesional, yang kemungkinan akan
berdampak negatif pada hasil uji kompetensi.
Human
relationship merupakan landasan penting dalam meningkatkan kualitas hubungan
mutu lembaga pendidikan islam. Da’ipreneur yang memahami pentingnya human
relations akan mampu memberikan motivasi yang kuat melalui pendekatan yang
empatik dan mendukung. Dengan memberikan pengakuan atas kontribusi dan prestasi
mereka, membangun komunikasi yang terbuka, serta memberikan dukungan dalam
pengembangan profesionalisme, Da’ipreneur dapat memicu motivasi untuk terus
meningkatkan kinerja mereka. dengan berbagai elemen menjadi kunci dalam
menciptakan lingkungan yang dinamis dan berkualitas. Hal inilah yang menjadi
latar belakang penulis penugasan makalah MK Pengembangan Mutu Lembaga
Pendidikan Islam (LPI) dengan judul “Human Relationship pada
pengembangan mutu Program Da’ipreneur di Lembaga Pendidikan Islam
Darul Khair Jember”.
Kajian Tiori
a.
Pengertian Human relationship dan Program Da’ipreneur
Human relations dalam organisasi
menciptakan hubungan yang positif antara semua anggota tim, memastikan
komunikasi yang efektif, mengelola konflik dengan bijaksana, dan membangun
budaya kerja yang inklusif. Ini membantu meningkatkan produktivitas,
meningkatkan retensi karyawan, dan menciptakan lingkungan di mana setiap
individu merasa dihargai dan didukung. Dengan fokus pada hubungan manusia yang
baik, organisasi dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, memperkuat
kepemimpinan, dan bersama. menciptakan atmosfer kerja yang positif untuk
pertumbuhan dan kesuksesan bersama.
Human relations menjadi aspek
penting dalam sebuah organisasi karena memengaruhi produktivitas,
kesejahteraan, dan keberhasilan keseluruhan. Dalam lingkungan kerja yang
didasarkan pada hubungan manusia yang positif, karyawan merasa dihargai,
didengar, dan diperlakukan secara adil. Ini menciptakan iklim di mana karyawan
merasa termotivasi untuk bekerja secara efektif, berkontribusi pada tim, dan berkolaborasi
dengan rekan kerja[1].
Selain itu, human relations membantu menciptakan budaya kerja yang inklusif dan
ramah, di mana diversitas dihargai dan dianggap sebagai aset. Ini mendorong
keragaman ide, pandangan, dan solusi, yang dapat membantu organisasi berinovasi
dan berkembang dalam lingkungan yang terus berubah[2].
Salah satu organisasi yang
memerlukan human relations yang baik adalah lembaga pendidikan islam terutama
dalam Program Da’ipreneur. Hal ini dikarenakan organiasi pendidikan yang erat
kaitannya dengan interaksi manusia menuju perubahan. Di lingkungan pengembangan
mutu lembaga Pendidikan Islam sangat erat hubungan antara siswa, guru, staf
administrasi, orang tua, dan masyarakat luas sangat penting. Human relations
membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi pembelajaran dan pengembangan
pribadi. Guru yang memiliki hubungan yang baik dengan siswa dapat memotivasi
mereka untuk belajar, menginspirasi mereka, dan memberikan dukungan yang mereka
butuhkan untuk mencapai potensi penuh mereka. Di sisi lain, hubungan yang baik
antara guru dan staf administrasi lancar[3].
Program Da’ipreneur perlu
dikembangkan di Era Masa Depan. Fenomena dalam beberapa tahun terakhir
popularitas para Da’i atau pendakwah sebagai figur publik yang memiliki pengaruh
signifikan dalam masyarakat menjadi perhatian yang cukup serius. Salah satu
aspek yang menarik perhatian adalah praktik menentukan tarif ceramah yangdilakukan
oleh Da’i dan hal ini akan mengakibatkan umat merasa kecewa.[4]
Walaupun mungkin di beberapa tempat dianggap lumrah dengan dalih itu akad
antara mu’jir dan musta’jir[5].
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan dalam dinamika dakwah dan
pendakwahan, tetapi juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik terkait
dengan nilai, etika, dan tujuan dari kegiatan dakwah itu sendiri[6].
Pada dasarnya, dakwah merupakan upaya menyampaikan pesanpesan keagamaan atau
moral dengan tujuan meningkatkan kesadaran spiritual dan moral masyarakat.
Namun, dibalik itu para Da’i yang melibatkan diri dalam kegiatan dakwah ini ada
yang menjadikannya sebagai profesi dan tentunya akan menimbulkan pro dan kontra[7].
Ketika menjadikan dakwah ini sebagai profesi akan berimplikasi terhadap
penentuan tarif dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya. Terlepas dari perbedaan
pendapat ulama tentang boleh tidaknya menerima upah dari mengajarkan agama akan
tetapi dalam menentukan tarif, hal ini sepertinya para ulama menyepakati
ketidak bolehannya[8].
Penentuan tarif ini tentunya akan menjadi pertanyaan di tengah umat apakah hal
ini sesuai dengan semangat berbagi ilmu dan nilai nilai keagamaan, ataukah
sudah melenceng dari tujuan awal dakwah.
Da’ipreneur yang dimaksud penulis
adalah juru dakwah dapat lebih aktif terlibat dalam kehidupan ekonomi
masyarakat, memberikan dampak positif, dan menciptakan keseimbangan antara
tugas dakwah dan kemandirian finansial. Penting untuk diingat bahwa niat dalam
berwirausaha haruslah tetap bersih dan didasarkan pada prinsip-prinsip agama
Islam. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam berwirausaha,
individu dapat mencapai kesuksesan ekonomi sambil memperoleh keberkahan dan
mendapatkan manfaat positif bagi masyarakat secara luas. Dengan hal ini maka
Da’i tersebut akan berdikari. Karena sebagai sebuah konsep yang mengintegrasikan
dakwah dan kewirausahaan, Da’i Preneur menjadi solusi strategis untuk membangun
kemandirian Da’i tanpa mengorbankan ketulusan dakwah. Dengan menjalankan usaha
yang berlandaskan nilai-nilai Islam, para Da’i tidak hanya dapat menopang
kebutuhan pribadi, tetapi juga memperluas dampak dakwah, menginspirasi umat
untuk berdaya secara spiritual dan ekonomi.
Da’i merupakan kewajiban setiap
muslim yang Allah lebihkan dan tinggikan derajatnya di banding manusia lainnya.
Kajian ini menegaskan bahwa peran da’i di era modern tidak dapat lagi
dipisahkan dari aspek ekonomi. Seiring dengan kompleksitas masyarakat global
dan tantangan dakwah yang semakin beragam, para da’i dituntut tidak hanya cakap
dalam menyampaikan ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha yang
berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Era globalisasi membawa perubahan mendalam
dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia dakwah dan keagamaan[9].
Di tengah dinamika globalisasi ini, para Da’i atau pendakwah menemui peluang
baru yang mengubah paradigma tradisional kegiatan dakwah mereka[10].
Peluang tersebut diistilahkan dengan Da’i Preneur, di mana para Da’i tidak
hanya berperan sebagai pembawa pesan keagamaan, tetapi juga menggali potensi
kewirausahaan mereka yang diharapkan dengannya bisa meningkatkan ekonomi umat
termasuk ekonomi Da’i[11].
Seorang Da’i harus punya usaha sampingan sebagaimana salah satu nasehat dari
ulama karismatik Indonesia KH. Maimun Zubair rahimahullah, beliau berkata “kalau
kelak kalian menjadi Kyai, guru, dosen, ustaz maka kalian harus punya usaha
sampingan supaya hatimu tidak mengharap pemberian atau bayaran dari orang lain
karena usaha dari jerih payah sendiri itu lebih barokah”. Tentunya konsep
ini sangat penting, menggali lebih dalam potensi Da’i Preneur di era
globalisasi, mengetahui tentang adaptasi seorang Da’i dalam menghadapi
tantangan global, serta mendorong untuk berinovasi dalam dakwah.
Peran Da’ipreneur adalah juru dakwah
yang juga memiliki jiwa wirausaha dapat memiliki dampak positif yang
signifikan, terutama dalam konteks masyarakat modern yang penuh dengan
tantangan ekonomi dan sosial. Konsep Da’ipreneur menjadi solusi strategis untuk
menjawab persoalan ketergantungan ekonomi da’i terhadap imbalan dakwah. Dengan
kemandirian finansial, seorang da’i tidak hanya mampu menjaga integritas dan
ketulusan dalam berdakwah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi umat untuk
mengembangkan usaha secara etis dan syar’i. Melalui tulisan ini, penulis
berkontribusi memberikan wawasan baru dan mendorong adanya transformasi peran
da’i sebagai agen perubahan moral sekaligus penggerak ekonomi umat dalam satu
kesatuan yang harmonis dan produktif.
Dengan demikian, ke depannya para
Da’i tidak akan bergantung lagi pada imbalan dalam setiap aktivitas dakwahnya.
Sebaliknya, usaha yang mereka bangun dapat menjadi penopang dakwah secara
mandiri dan berkelanjutan. Fenomena ini mulai tampak dari sejumlah da’i di
Indonesia yang sukses menggabungkan peran dakwah dengan aktivitas bisnis,
seperti Ustadz Adi Hidayat dengan usaha travel umrah, Ustadz Khalid Basalamah
dengan bisnis kulinernya, serta Ustadz Aa Gym dengan PT MQ Corporation.
Figur-figur ini dapat menjadi teladan (qudwah) bagi para da’i lainnya dalam
mewujudkan dakwah yang tidak hanya menginspirasi dari sisi keilmuan agama,
tetapi juga dari sisi kemandirian dan kontribusi ekonomi.
Berdasarkan uraian tersebut,
hubungan profesionalisme Human relationship merupakan landasan penting dalam
meningkatkan kualitas hubungan mutu lembaga pendidikan islam. Da’ipreneur yang
memahami pentingnya human relations akan mampu memberikan motivasi yang kuat
melalui pendekatan yang empatik dan mendukung. Dengan memberikan pengakuan atas
kontribusi dan prestasi mereka, membangun komunikasi yang terbuka, serta
memberikan dukungan dalam pengembangan profesionalisme, Da’ipreneur dapat
memicu motivasi untuk terus meningkatkan kinerja mereka. Dengan demikian,
hubungan yang positif antara berbagai elemen menjadi kunci dalam menciptakan
lingkungan yang dinamis dan berkualitas. Hal inilah yang menjadi latar belakang
penulis makalah penugasan MK Pengembangan Mutu Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan
judul “Human Relationship pada pengembangan mutu Program
Da’ipreneur di Lembaga Pendidikan Islam Darul Khair Jember”.
b.
Konsep Human Relationship pada mutu Pendidikan Humanistik dan
Relevansi
Human Relationship
pada mutu Pendidikan Humanistik dan Relevansi yaitu merupakan Konsep Pendidikan
humanistik yaitu memandang manusia sebagai manusia yaitu sebagai makhluk
ciptaan Allah SWT dengan fitrahnya. Manusia yang dihasilkan oleh pendidikan
yang humanistik diharapkan bisa berfikir, merasa, berkemauan, dan bertindak
sesuai dengan nilai nilai luhur kemanusiaan yang bisa menggantikan sifat
individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang sesama manusia,
sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling tolong menolong, dan lain-lain
sebagainya (Idris, 2014). Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk pilihan
yang dimuliakan oleh Allah swt. jika dibandingkan dengan makhluk lainnya karena
manusia adalah makhluk terbaik yang menyimpan banyak potensi seperti memiliki
akal, hati, dan raga. Dengan akalnya, manusia akan mampu memilah dan mimilih
nilai-nilai kebenaran, kebaikan, kejujuran, dan keindahan yang tertuang dalam
risalah para rasul. Manusia dengan hatinya akan mampu memutuskan sesuatu yang
sesuai dengan kehendak pencipta-Nya. Sementara dengan raganya, manusia
diharapkan dapar pro-aktif untuk melahirkan karya-karya besar dan
tindakan-tindakan yang positif sehingga tetap mempertahankan gelar kemuliaan
yang telah diberikan oleh Allah seperti ulul albab (orang yang berakal)
(Haryanto, 2014). Dalam konteks Islam, pendidikan humanistik bersumber dari misi
utama dari kerasulan Nabi Muhammad saw. yaitu memberikan rahmat dan kebaikan
bagi seluruh semesta alam sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anbiya/21:107.

Terjemahnya: Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali
sebagai rahmat bagi seluruh alam (Kementerian Agama RI, 2013).
Berdasarkan ayat di atas, dapat
dipahami bahwa pendidikan humanistik memandang manusia sebagai makhluk ciptaan
Allah swt. dengan segala fitrahnya. Selain itu, konsep humanisme dalam Islam
menduduki posisi yang penting sebab penghargaan terhadap manusia dan
kemanusiaan ditentukan langsung oleh Allah. Islam juga telah menjelaskan bahwa
Allah telah menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dijadikan-nya
“sebaik-baiknya” dan ditempatkan dalam posisi “paling istimewa” diantara
makhluk yang lainnya.Olehnya itu, manusia wajib menempatkan martabat dan
kemanusiaan pada tempat yang sebaik-baiknya. Pendidikan Islam yang berorientasi
untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebenarnya juga sudah terwujud
dalam konsep Islam itu sendiri sebagaimana firman Allah swt dalam QS.
Al-Hujurat/49:10.

Terjemahnya: Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaiki hubungan)
antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat
rahmat (Kementerian Agama RI, 2013).
Ayat di atas mengandung satu proses
pendidikan humanis yang sangat mulia sekali karena manusia diharapkan untuk
saling mengenal, menghormati, menghargai, saling membantu serta saling tolong
menolong. Selain itu, dari ayat ini juga terlihat tujuan pendidikan pada
umumnya yaitu menjadikan manusia sebagai makhluk yang senantiasa merdeka,
bebas, dihargai dan dijunjung tinggi martabatnya oleh manusia lain karena pada
dasarnya hal itu merupakan fitrah manusia diciptakan di dunia ini.
Human Relationship pada pengembangan
mutu Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, unik, multidimensi, dan
mempunyai beragam potensi yang tidak dimiliki makhluk jenis lainnya. Atas dasar
itu, maka pendidikan Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardl
(pemimpim di bumi), manusia yang dapat dididik, dilatih, dan diberdayakan untuk
melahirkan manusia beriman, sempurna, bermoral tinggi, memiliki pengetahuan,
berwawasan luas, dan melahirkan manusia yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai
spiritual illahiah dengan nilai-nilai kultural duniyawiyah. Peran human
relationship merupan pengembangan Pendidikan humanistik memandang manusia
sebagai manusia yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah swt. dengan fitrahnya.
Manusia yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan bisa
berfikir, merasa, berkemauan, dan bertindak sesuai dengan nilai nilai luhur
kemanusiaan yang bisa menggantikan sifat individualistik, egoistik, egosentrik
dengan sifat kasih sayang sesama manusia, sifat ingin memberi dan menerima,
sifat saling tolong menolong, dan lain-lain sebagainya (Idris, 2014).
Konsep Human Relationship merupakan
pengembangan humanistik atau humanisme dalam pendidikan merupakan proses
pendidikan yang lebih mengutamakan potensi manusia sebagai makhluk sosial dan
makhluk berketuhanan. Pendidikan humanistik merupakan implementasi pendidikan
yang melihat manusia sebagai suatu kesatuan yang utuh dan melihat manusia
sebagai ciptaan Allah dengan fitrahnya untuk dikembangkan secara maksimal.
Pendidikan humanistik juga memberikan pemahaman agar menghargai harkat dan
martabat peserta didik serta memberikan ruang merdeka secara penuh kepada
peserta didik untuk mengembangkan potensinya
Selain itu, pendidikan Islam yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan bertuhan,
kebutuhan akan makna hidup, kebutuhan akan cinta dan kasih sayang serta
kebutuhan akan rasa aman dan mencapai kebahagiaan ternyata memiliki tujuan yang
sejalan dan selaras dengan tujuan pendidikan humanistik itu sendiri, dimana
tujuan pendidikan humanistik yaitu pola pendidikan yang memanusiakan manusia
sesuai dengan perannya di muka bumi sebagai hamba dan wakil Allah SWT. Di
sinilah Mutu Pendidikan Islam sebagai Human Relationship sebagai proyeksi
kemanusiaan memiliki peran yang signifikan. Melalui pendekatan humanistik ini,
maka pendidikan akan menjadi upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan
potensi dirinya dengan optimal (Haryanto, 2014).
Human relationship yang humanistik
memiliki relevansi dengan pendidikan Islam karena pendidikan humanis dalam
bingkai pendidikan Islam merupakan suatu sistem pemanusiaan manusia yang unik,
mandiri dan kreatif. Selain itu, dalam pendidikan Islam juga memandang manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah swt. dengan segala fitrahnya dan menghargai
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Maka dari
itu, hendaknya setiap individu dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta
didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual;
pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu dengan tetap mempertimbangkan
perbedaan masing-masing pribadi (Idris, 2014).
Konsep Human Relationship pada
Da’ipreneur berkualitas dunia mutu pendidikan islam juga menjadi begitu
penting untuk dikembangkan kemandirian dalam pendidikan Islam, khususnya
pendidikan dasar. Adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat setiap
waktunya, memberikan ruang merdeka bagi anak namun jauh dari pribadi-pribadi
yang memiliki moral dan etika baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat
sehingga pendidikan humanistik perlu dilaksanakan karena mengingat pentingnya
mengembalikan dunia anak pada kehidupan yang sebenarnya sembari memberikan
penguatan dan pembiasaan melalui nilai-nilai religiusitas. Human Relationship memiliki
relevansi dengan mengembangkan mutu pendidikan Islam karena pada dasarnya
berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik dan kemerdekaan
individunya. Da’ipreneur sebagai Peserta didik akan memiliki ruang bebas
dalam peningkatan dan pengembangan kemampuan melalui proses bimbingan,
pengarahan, penanaman, serta penguatan yang dilakukan oleh seorang pendidik
dengan memasukkan muatan nilai keagamaan dan keberagaman.
Berdasarkan beberapa uraian tentang
Human Relationship Pada Pengembangan Mutu Program Da’ipreneur di Lembaga
Pendidikan Islam (LPI) uraian di atas, dapat dipahami bahwa membangun,
memperkenalkan, menerapkan, dan memahami pendidikan humanistik dan relevansinya
dengan pendidikan Islam merupakan tuntutan sejarah yang harus dilakukan secara
integral, sistematis, dan didukung oleh semua pihak. Apalagi mengingat
pendidikan merupakan sebuah investasi yang begitu penting bagi masa depan
bangsa, maka pendidikan Islam yang begitu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
(pendidikan humanistik) mempunyai potensi besar untuk keberhasilan pendidikan
sebagai bagian dari kehidupan bangsa.
c.
Peran Human Relationship meningkatkan mutu Program Da’ipreneur di
LPI
Peran humas bagi lembaga
pendidikan di era revolusi industri 4.0 kini telah menjadi bagian integral dari
manajemen mutu lembaga pendidikan. Hubungan masyarakat atau humas adalah
praktik mengelola penyebaran informasi antara individu atau organisasi dan
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran
hubungan masyarakat (humas) dalam meningkatkan mutu Pendidikan. Penelitia ini
menggunakan penelitian kepustakaan atau library research. Penelitian
kepustakaan merupakan jenis penelitian yang erat kaitannya dengan metode
ilmiah, teori-teori, kajian filosofis (philosophical approach), khazanah
literatur dan teks- teks yang bersifat ready made yang didapatkan sebagai
sumber data dengan berlatar belakang perpustakaan. Hasil dari penelitian ini
adalah Humas memiliki peran strategis dalam upaya peningkatan mutu lembaga
pendidikan. Dengan adanya humas diharapkan terjadi saling pengertian, akibatnya
memunculkan sikap kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pihak sekolah untuk
menanggulangi masalah-masalah pendidikan yang dihadapi oleh kedua belah pihak.
Dalam upaya pengembangan mutu Pendidikan tidak lepas dari peran serta
masyarakat yang menjadi faktor penting dalam mendukung tercapainya
program-program yang diselenggarakan dalam lembaga Pendidikan.
Peran human relationship pada
pengembangan Mutu Program Da’ipreneur bagi lembaga pendidikan di era revolusi
industri 4.0 kini telah menjadi bagian integral dari manajemen mutu lembaga
pendidikan islam terutama di lembaga pesantren yaitu luaran kelulusan punya
jiwa kemandirian dalam berda’kwah dalam hal ini ada da’ipreneur. Munculnya
beberapa lembaga pendidikan baru berbasis masyarakat tentunya menjadi tantangan
baru bagi promosinya baik di lingkungan masyarakat sekitar maupun di luar Dalam
rangka memaksimalkan dukungan masyarakat terhadap lembaga maka perlu diadakan
manajemen Human Relationship sebagai tanggung jawab lembaga pendidikan dalam
melaksanakan kegiatan mutu pendidikan. Berdasarkan pertimbangan tersebut,
pemerintah berupaya memaksimalkan peran serta masyarakat dalam pendidikan
dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang system
pendidikan nasional. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 23 disebutkan, “Sumber
daya pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyelenggarakan
pendidikan, meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana dan prasaran.
Aktifitas Human Relationship pada lembaga pendidikan secara substasi dapat
dimakani sebagai sarana komunikasi dua arah atau dikenal dengan istilah two way
traffic communicationantara lembaga Pendidikan dengan masyarakatnya, sekaligus
sebagai bentuk upaya yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan dalam rangka
menjalin simbiosis dan sinergi demi tercapainya proses pendidikan dan
pencapaian tujuan pendidikan yang lebih baik. (Ahmad, 2019).
Human Relationship merupakan fungsi
manajemen yang membantu menciptakan dan saling memelihara alur komunikasi,
pengertian, dukungan, serta kerja sama organisasi dengan publiknya serta ikut
terlibat dalam masalah-masalah yang terkait dengan isu manajemen. Dengan kata
lain, human relationship dalam suatu lembaga atau organisasi atau instansi
merupakan proses yang melaksanakan fungsi manajemen. Lebih lanjut lagi, Horton
menjelaskan cakupan fungsi humas sebagai fungsi manajemen adalah sebagai
berikut: (Iriantara, 2013).
Sasaran human Relationship adalah
publik internal dan publik eksternal. Audiens internal mencakup orang-orang
yang beroperasi di dalam organisasi, seperti karyawan. Ada perbedaan antara
satu organisasi dengan organisasi lainnya, misalnya dalam sebuah perusahaan
yang terdiri dari karyawan, pemegang saham. Audiens eksternal adalah
orang-orang di luar organisasi yang terlibat dalam aktivitas organisasi,
seperti jurnalis. Dalam hal audiens eksternal ini, ada perbedaan di antara
perusahaan. Misalnya perusahaan tembakau di luar, selain di atas, juga memiliki
pelanggan dan calon pelanggan. Di Kementerian Dalam Negeri, semua warga adalah
masyarakat luar (Kurnia, Santoso, & Rahmanto, 2013). Program human
relationship secara internal ditujukan untuk menjalin hubungan dilembaga
pendidikan, terutama antara kepala sekolah dan guru, kepala sekolah dengan tata
usaha, guru dengan tata usaha, maupun hubungan kepala sekolah, guru dan tata
usaha dengan siswa, sedangkan program humas secara eksternal ditujukan untuk
menjalin hubungan antar Lembaga pendidikan dengan pihak diluar lembaga
pendidikan.
Komunikasi Human Relationship memiliki
kemampuan dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan, langsung maupun tidak
langsung, melalui media cetak atau pun elektronik. Komunikasi lembaga
pendidikan dengan orang tua peserta didik juga bisa melalui Whatsapp Group
online. Komunikasi sekolah dengan masyarakat sangat berbeda sebelum pandemi
dibandingkan dengan yang sekarang. Sebelum pandemi jika ada keluhan dari orang
tua siswa langsung melapor ke sekolah, sedangka setelah adanya pandemi
dilakukan secara virtual. Pendukung Humas lembaga pendidikan merupakan
pendukung program lembaga pendidikan. Artinya, keberadaannya dianggap penting
manakalah berperan sesuai dengan perannya secara baik dalam berkomunikasi.
Peran Manejemen Human Relationship
dalam pengembangan mutu pendidikan dalam suatu lembaga atau organisasi
penyelenggara pendidikan mempunyai peran yang besar bagi perkembangan
masyarakatnya. Keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan yang ditetapkan,
tidak lepas kaitannya dengan kedudukan sekolah sebagai lembaga atau organisasi
yang terdiri dari beberapa komponen pendukung keberlangsungan suatu organisasi itu
sendiri. Termasuk pula human Relationship yaitu salah satu komponen inti bagi
keberlangsungan suatu lembaga pendidikan. Humas dalam sekolah berfungsi sebagai
jembatan penguhubung antara sekolah dengan masyarakat atau begitu pula
sebaliknya. Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu
sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi
peserta didik di sekolah atau lembaga Pendidikan Islam.
Kesimpulan
Human Relationship
dalam organisasi menciptakan hubungan yang positif antara semua
anggota tim, memastikan komunikasi yang efektif, mengelola konflik dengan
bijaksana, dan membangun budaya kerja yang inklusif. Ini membantu meningkatkan
produktivitas, meningkatkan retensi karyawan, dan menciptakan lingkungan di
mana setiap individu merasa dihargai dan didukung. Program Da’ipreneur perlu
dikembangkan di Era Masa Depan. Fenomena dalam beberapa tahun terakhir
popularitas para Da’i atau pendakwah sebagai figur publik yang memiliki
pengaruh signifikan dalam masyarakat menjadi perhatian yang cukup serius agar
menuju kemandirian. Juru dakwah dapat lebih aktif terlibat dalam kehidupan
ekonomi masyarakat, memberikan dampak positif, dan menciptakan keseimbangan
antara tugas dakwah dan kemandirian finansial dan seterusnya perlu suatu
terobosan melalui Program Da’ipreneur.
Konsep Human Relationship merupakan bagian mutu Pendidikan Humanistik dan Relevansi. Konsep Pendidikan
humanistik dan relevansi yaitu memandang manusia sebagai manusia yaitu sebagai
makhluk ciptaan Allah SWT dengan fitrahnya. Manusia yang dihasilkan oleh
pendidikan yang humanistik diharapkan bisa berfikir, merasa, berkemauan, dan
bertindak sesuai dengan nilai nilai luhur kemanusiaan yang bisa menggantikan
sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang sesama
manusia, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling tolong menolong, dan
lain-lain sebagainya. Konsep Human Relationship pada Da’ipreneur berkualitas
dunia mutu pendidikan islam juga menjadi begitu penting untuk dikembangkan kemandirian
dalam pendidikan Islam. Adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat setiap waktunya,
memberikan ruang merdeka bagi anak namun jauh dari pribadi-pribadi yang
memiliki moral dan etika baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat sehingga
pendidikan humanistik perlu dilaksanakan karena mengingat pentingnya
mengembalikan dunia anak pada kehidupan yang sebenarnya.
Peran human relationship pada pengembangan Mutu Program Da’ipreneur bagi lembaga pendidikan di era revolusi industri 4.0 kini telah menjadi bagian integral dari manajemen mutu lembaga pendidikan islam terutama di lembaga pesantren yaitu luaran kelulusan punya jiwa kemandirian wirausaha dalam berdakwah dalam hal ini Program da’ipreneur sebagai salah satu solusi menjalani kemandirian hidup atau menjadikan manusia yang humanistik yang relevansi.
Daftar Pustaka
Ahmad Anshori, “Polemik Penceramah Pasang Tarif,” 2023, https://muslim.or.id/69592-polemik-penceramah-pasang-tarif .html. diakses 16 November 2023.
Bahri. “Kewirausahaan Islam: Penerapan Konsep Berwirausaha Dan
Bertransaksi Syariah Dengan Metode Dimensi Vertikal (Hablumminallah) Dan
Dimensi Horizontal (Hablumminannas).” Maro: Jurnal Ekonomi Syariah Dan
Bisnis 1, no. 2 (2018): 67–86. http://jurnal.unma.ac.id/index.php/Mr/index.
Bahtiar, Ace Toyib, Bahri Ghazali, Yunan Yusuf Nasution, Shonhaji
Shonhaji, and Fitri Yanti. “Dakwah Bil Hal: Empowering Muslim Economy in
Garut.” Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies 14, no. 1
(2020): 125–44. doi:10.15575/idajhs.v14i1.9122
Basrian, Nor’ainah, and Maimanah. “Islamisme dan Habib-Preneur:
Aktivitas Bisnis Dan Dakwah Para Habib Di Kalimantan Selatan.” Al-Banjari
21, no. 1 (2022): 14–33.
Chotimah, Husnul. “Upaya Peningkatan Kemandirian Ekonomi Umat
Melalui NU-Preneur.” JIES : Journal of Islamic Economics Studies 1, no. 2
(2020): 60–69.
Dona, Fitria. “Dakwah Pengembangan Ekonomi Masyarakat.” El-Arbah
04, no. 1 (2020): 37–52.
Fathimatuz Zuhro, “Pendapatan Da’i Dalam Perspektif Hukum
Islam,” Studia Quranika 5, no. 1 (2020): 2–11.
Faridah, Faridah. “Analisis Implementasi Keteladanan Dai Dalam
Efektivitas Dakwah Di Era Kontemporer.” Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim
Dan Bimbingan Rohani 1, no. 1 (2015): 93–109. doi:10.47435/mimbar.v1i1.272.
Fauzia, Ika Yunia. Islamic Entrepreneurship Kewirausahaan Berbasis
Pemberdayaan. I. Depok: Rajawali Pers, 2019.
Fauziah, Mira. “Sifat-Sifat Da’i Dalam Al-Quran (Kajian Surah Ali
Imran 159).” Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah 17, no. 1 (2020): 126–35
Haryanto, A.-F. (2014). Desain Pembelajaran yang Demokratis dan
Humanis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Husnul Chotimah, “Upaya Peningkatan Kemandirian Ekonomi Umat
Melalui NU-Preneur,” JIES : Journal of Islamic Economics Studies 1, no. 2
(2020): 60–69
Idris, M. (2014). Konsep Pendidikan Humanis dalam Pengembangan
Pendidikan Islam. Jurnal Miqot, XXXVIII(2), 417–434.
Istina Rakhmawati, “Perkembangan Media Sebagai Sarana Dakwah,”
AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 4, no. 1 (2016): 49 70.
Lilik Jauharotul Wastiyah, “Peran Manajemen Dakwah Di Era
Globalisasi (Sebuah Kekuatan, Kelemahan, Peluang Dan Tantangan),” Idarotuna 3,
no. 1 (2020): 1–15, doi:10.24014/idarotuna.v3i1.10904.
Mahmud, Hilal. Adminisrasi Pendidikan (Menuju Sekolah Efektif).
Penerbit Aksara Timur, 2015.
Manik, Umar Ma'ruf dan Maya Sari. “Pengaruh Human relation
Islami Terhadap Kepuasan Kerja Pada Hotel Natama.” Jurnal AKMAMI (Akutansi,
Manajemen, Ekonomi), 4(2) (2023): 100-107.
Mohammad Rofiq, “Etika Dakwah: Menyikapi Fenomena Da’i
Bertarif,” Miyah XI, no. 2 (2015): 239–58.
Riniwati, Harsuko. Manajemen Sumberdaya Manusia (Aktivitas Utama
dan Pengembangan SDM). Malang: UB Press, 2016.
Rusdin Tahir, Manajemen Sumber Daya Manusia (Sebuah Konsep dan
Implikasi terhadap Kesuksesan Organisasi) (Jambi: PT. Sonpedia Publishing
Indonesia, 2023), h.99-100.
Yosal Iriantara, Manajemen Humas Sekolah, (Bandung: Simbiosa
Rekatama Media. 2013).
Yulia Suherman, “Tinjauan Hukum Islam Tentang Menentukan Tarif Dalam Melaksanakan Ceramah (Studi Pada Majelis
Ulama Indonesia Dan Gerakan Mubaligh Islam Di Kota Bandar Lampung). (2019).
http://repository.radenintan.ac.id/9955/1/SKRIPSI_PERPUS.pdf
Yan Oriza, “Analisis Hermeneutika Gaya Komunikasi Da’i Di Kota
Medan,” Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents 8, no. 4
(2018): 494–509.
[1] Harsuko
Riniwati, Manajemen Sumberdaya Manusia (Aktivitas Utama dan Pengembangan
SDM) (Malang: UB Press, 2016), h.1-3
[2]
Rusdin Tahir, Manajemen Sumber Daya Manusia (Sebuah Konsep dan Implikasi
terhadap Kesuksesan Organisasi) (Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia,
2023), h.99-100
[3] Hilal
Mahmud, M. M. Administrasi Pendidikan (menuju sekolah efektif). (Jakarta:
Penerbit Aksara TIMUR, 2015), h. 26
[4] Mohammad
Rofiq, “Etika Dakwah: Menyikapi Fenomena Da’i Bertarif,” Miyah XI, no. 2
(2015): 239–58.
[5] Yulia
Suherman, “Tinjauan Hukum Islam Tentang Menentukan Tarif Dalam Melaksanakan
Ceramah (Studi Pada Majelis Ulama Indonesia Dan Gerakan Mubaligh Islam Di Kota
Bandar Lampung)” (2019), http://repository.radenintan.ac.id/9955/1/SKRIPSI_PERPUS.pdf
[6]
Fathimatuz Zuhro, “Pendapatan Da’i Dalam Perspektif Hukum Islam,” Studia
Quranika 5, no. 1 (2020): 2–11.
[7] Yan
Oriza, “Analisis Hermeneutika Gaya Komunikasi Da’i Di Kota Medan,” Paper
Knowledge . Toward a Media History of Documents 8, no. 4 (2018): 494–509,
[8] Ahmad
Anshori, “Polemik Penceramah Pasang Tarif,” 2023, https://muslim.or.id/69592-polemik-penceramah-pasang-tarif.
html. diakses 16 November 2023
[9] Istina
Rakhmawati, “Perkembangan Media Sebagai Sarana Dakwah,” AT-TABSYIR: Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam 4, no. 1 (2016): 49 70.
[10] Lilik
Jauharotul Wastiyah, “Peran Manajemen Dakwah Di Era Globalisasi (Sebuah
Kekuatan, Kelemahan, Peluang Dan Tantangan),” Idarotuna 3, no. 1 (2020): 1–15,
doi:10.24014/idarotuna.v3i1.10904.
[11] Husnul
Chotimah, “Upaya Peningkatan Kemandirian Ekonomi Umat Melalui NU-Preneur,”
JIES : Journal of Islamic Economics Studies 1, no. 2 (2020): 60–69.
0 Komentar