Nasihat Bijak Orang Tua (Guru) Kepada Anak (Santri) Perspektif Qur'an Surat Lukman yang utama untuk Implementasi Kurikulum pada proses Pembelajaran Qur'an di Madrasah Diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) Darul Khair. Harapan terwujud Kader berkrakter Tauhid, Berbakti kepada Orang Tua, menegakkan Sholat, Ber- Adab (BerAhlak), Amar Ma'ruf nahi mungkar dan Sholeh penuh dengan kesholehan.
Nasihat bijak Luqman kepada anaknya termaktub dalam QS. Luqman
mencakup Tauhid
(jangan syirik), Berbakti kepada Orang Tua (syukur kepada Allah
& orang tua, berbuat baik), Menegakkan Shalat, Amar Ma'ruf
Nahi Munkar, Sabar, serta Adab (jangan sombong,
sederhanakan jalan, lunakkan suara), mengajarkan pondasi iman, akhlak mulia,
dan ketangguhan hidup sebagai bekal dunia akhirat.
Melihat biografi Kisah Lukman mengenal Luqman al Hakim, perlu
memahami beberapa aspek penting dari dirinya berdasarkan riwayat-riwayat yang
disampaikan oleh para ulama tafsir dan sejarawan Islam. Mayoritas ulama (jumhur
ulama), termasuk para ahli tafsir besar seperti Ibnu Katsir, berpendapat bahwa
Luqman al Hakim adalah seorang hamba Allah yang sholeh dan ahli hikmah
(waliyullah), tetapi bukan seorang Nabi. Sebuah keistimewaan yang luar biasa.
Allah mengangkat derajat seorang hamba biasa yang bukan nabi dan bukan pula
raja, lalu mengabadikan namanya dalam kitab suci-Nya. Pelajarannya sangat
jelas: kemuliaan di sisi Allah bisa diraih oleh siapa saja yang memiliki
ketakwaan dan kebijaksanaan, tidak terbatas pada garis keturunan atau status
kenabian. Ini membuat Luqman menjadi sosok teladan yang sangat bisa di contoh
untuk dijadikan salah satu tauladan membangun keluarga yang diridhai oleh Allah
SWT.
Keluarga Lukman Berbeda dengan para nabi yang umumnya.
berasal dari garis keturunan terpandang di kaumnya, riwayat menyebutkan bahwa
Luqman al Hakim berasal dari latar belakang yang sangat sederhana. Pekerjaannya
pun merupakan pekerjaan rakyat biasa atau pada umumnya. Ada yang meriwayatkan
beliau adalah seorang tukang kayu, penjahit, atau penggembala domba.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau awalnya adalah
seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh tuannya karena melihat kecerdasan
dan kejujurannya yang luar biasa. Pelajaran dari latar belakang ini sangat
mendalam: Dalam Islam, kemuliaan, kehormatan, dan hikmah sama sekali tidak
diukur dari status sosial, suku, apalagi warna kulit. Ia murni anugerah Allah
yang diberikan kepada hamba-Nya yang memiliki hati yang bersih dan akal
yang senantiasa bertafakur.
NASIHAT BIJAK orang tua kepada putra,
membimbing dan mendidik di tengah derasnya arus informasi global perjalanan
kehidupan menjadi penting dan wajib orang tua memberikan nasihat nasihat bijak
kepada putranya untuk bisa terselamatkan kehidupannya di dunia sampai kelak
untuk kehidupan akhirat. Berbagai kehidupan Global saat ini anak lebih dekat
pada kehidupan global sehigga mengikuti arus globalisasi terlepas dengan
kontrol nilai – nilai kebaikan, dan sebagai orang tua merasa bingung. Metode
mana yang terbaik, Gaya pengasuhan seperti apa yang paling efektif, dan
mencari-cari sebuah formula yang tidak hanya menjadikan anak cerdas secara
akademis, tetapi juga tangguh imannya dan mulia akhlaknya. Seringkali, bahwa
panduan terbaik itu sudah tersedia di depan mata kisah keluarga Lukman yang
terabadikan dalam Quran yaitu Surat Lukman.
1. Nasihat
Bijak Perspektif Kisah Lukman, Tanamkan Nilai Tauhid untuk selalu bersyukur dan
Jauhi Syirik
Nasihat utama orang tua
kepada Anak menanamkan nilai tauhid (Allah SWT) dalam semua kehidupan agar
selalu hidup bersyukur hanya kepada Allah SWT semata dan terhindar dalam
kehidupan tanpa bimbingan Allah yaitu Syirik. dalam kemurahan-Nya, telah
mengabadikan sebuah kurikulum jadi diri insan yang sempurna di dalam Al-Qur'an tepatnya
dalam Surah Luqman. Luqman al Hakim bukanlah seorang Nabi, namun ia adalah
seorang ayah yang dianugerahi hikmah (kebijaksanaan) luar biasa oleh Allah,
sehingga nasihatnya kepada sang anak diabadikan untuk menjadi pelajaran bagi
seluruh umat manusia hingga akhir zaman dan masih relevan pada kehidupan
keluarga saat sekarang.
Nama Lukman telah disebut
sebanyak dua kali dalam Al-Qur'an, dan termaktub dalam surat Luqman ayat 12-13,
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ
الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا
يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ
وَمَنْ
كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ
يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Artinya: (12) Dan sungguh, telah Kami
berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan
barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya
Allah Mahakaya, Maha Terpuji.
(13)
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi
pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
2. Nasihat Bijak Perspektif Kisah Lukman Memelihara
Adab dan Ahlak agar Keluarga selamat dari siksa Api Neraka
Nasihat
bijak orang tua kepada anak menurut hadis Rasulullah SAW menekankan pentingnya mendidik adab dan akhlak mulia, karena adab
lebih utama dari harta; mengajarkan tauhid
(mengenal Allah dan memohon hanya kepada-Nya); serta menjadi teladan
baik dan mendoakan
kebaikan untuk anak Muhsin, dan orang selalu mendokan
putranya menjadi orang yang baik atau menjadi anak yang berbakti kepada Allah
SWT dan Rasulullah. Karena doa orang tua mustajab untuk menjadi putra yang muhsin. Ukuran Ahlak
atau Adab Baik seorang putra yaitu mengenal dan melibatkan Allah dalam semua
persoalan dan semakin teguh memagang tali Allah pada segala urusan kehidupan. Allah
SWT befirman dalam QS. Lukman ; 22.
وَمَنْ
يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ
Artinya: Siapa
yang berserah diri kepada Allah dan dia seorang muhsin, maka sungguh dia telah
berpegang teguh pada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan
segala urusan (Qs. Lukman:22).
Orang tua juga wajib mengajarkan anak sesuai
zamannya tanpa meninggalkan Ahlak atau adab kebaikan agar selamat dari
kehidupan yang dilarang oleh Allah atau mendekati suatu kemudhoratan atau
kemaksiatan sehingga tergelincir pejalanan hidupnya tanpa kendali diri sehingga
terjerumus pada kemungkaran yaitu ihwanas syatin. Kewajiban Orang tua
menasehati kepada putanya untuk selalu menjaga keluarga dari api neraka,
seperti firman Allah dalam
Quran Surat At-Tahrim ayat
6
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ
اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang
kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Qs. At Tahrim : 6).
3. Nasihat Bijak menurut Ajaran Islam tentang Cara Menasihati Anak
Nasihat Perspektif Al-Quran Surat Lukman memberikan teladan
menasihati anak dengan penuh hikmah. Salah satu contoh terbaik adalah nasihat
Luqman kepada anaknya yang diabadikan dalam al-Quran:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ
بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ
ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) berbuat yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs Luqman: 17)
Ayat ini mengandung
beberapa prinsip, di antaranya yakni:
(1). Yaa Bunaya; Dengan panggilan
penuh kasih (yaa bunayya: wahai anakku tercinta). Kata yaa bunayya adalah
bentuk panggilan lembut dan penuh cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Dalam
bahasa Arab, tambahan “yaa” sebagai seruan dan “bunayya” (dengan bentuk
tashghir) menunjukkan rasa sayang, perhatian, dan kedekatan emosional. dengan
kalimat ( يٰبُنَيَّ
)
Panggilan seperti ini membuat anak merasa
dihargai dan dicintai sehingga lebih terbuka menerima nasihat. Dalam
pendidikan, pendekatan emosional yang positif terbukti membuat pesan lebih
mudah diterima daripada teguran yang dingin atau kasar. Adanya penuh Kasih
sayang. Dalam shahihain juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Barangsiapa
yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhori no. 5997
dan Muslim no. 2318).
(2). Mengajarkan Kewajiban Agama; Nasihat
pertama yang Luqman sampaikan adalah ‘aqimis shalah (dirikanlah shalat). Ini
menunjukkan prioritas utama pendidikan anak dalam Islam adalah menanamkan
kewajiban ibadah sejak dini.
Shalat adalah tiang agama, penghubung
seorang hamba dengan Tuhannya, dan fondasi akhlak yang baik. Mengajarkan
kewajiban agama bukan sekadar menghafal perintah, tetapi juga membiasakan anak
melaksanakannya dengan kesadaran, Kualitas Pelaksanaan Ibadah dan keteladanan
orang tua dan utama orang tua untuk mengajarkan tentang sholat sebagai perintah
Agama. dengan istilah ( اَقِمِ الصَّلٰوةَ )
Salat adalah tiang agama, dan anak harus
dibiasakan sejak dini. Dalam hadis sahih riwayat Abu Dawud yang disebutkan
sebelumnya, Rasulullah Saw memerintahkan:
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ
أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
Artinya: “Perintahkan
anak-anak kalian untuk menunaikan salat saat mereka berusia tujuh tahun, dan
pukullah mereka saat mereka berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).
Pendidikan Salat berjamaah di masjid,
rumah, atau sekolah mengajarkan disiplin dan kebersamaan. Pada usia sepuluh
tahun, pendidikan salat harus lebih intensif untuk memastikan anak memahami
makna dan kewajibannya.
(3). Mengarahkan pada kebaikan dan
mencegah keburukan; membimbing dan mengarah pada Perintah Allah SWT yaitu (
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ ) berarti membimbing anak untuk aktif
mengajak kepada hal-hal baik serta menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Ini melatih anak memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral, tidak hanya
untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk lingkungannya. Prinsip amar ma’ruf nahi
munkar menanamkan nilai keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang
bijak dan penuh hikmah. Nabi SAW menjadikan Ma’ruf mendakati jiwa kejujuran
sebagai asas dari setiap kebaikan, Karena Kebaikan akan membawa ke Surga. tapi
sebaliknya jika mereka berbuat suatu kemungkaran dalam hal ini selalu merugikan
orang lain dalam kebohongan maka akan membawa kehidupan yang merugi atau sedang
membangun istana menuju nerakanya Allah swt. sebagaimana sabdanya:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ
يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ
الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ
صِدِّيقًا
وَإِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ
يَهْدِي إِلَى النَّارِ
وَمَا يَزَالُ
الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ
كَذَّابًا
Artinya: “Hendaklah
kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan
kebaikan membawa ke sorga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran
akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur.
Dan jauhilah sifat bohong, karena
kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang
selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai
pembohong” (HR. Muslim).
(4). Menguatkan
anak untuk bersabar dalam menjalani kehidupan; meneguhkan dan menguatkan menjalani perjalan hidup dengan penuh sabar
apa yang telah terjadi ( وَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ
). mengajarkan bahwa hidup tak selalu
berjalan mulus. Anak perlu dibekali kesabaran dalam menghadapi ujian,
kegagalan, atau penolakan
Selain itu, Rasulullah Saw juga
memberikan contoh nyata. Beliau menasihati dengan kelembutan, tidak memaki, dan
tidak mempermalukan di depan umum.
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud,
Rasulullah menasihati Abdullah bin Abbas dengan kalimat yang penuh kehangatan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ
رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوْمًا فَقَالَ:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ،
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ
فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ
الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ
إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ
يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ
عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
(الترمذي وقال
حديث حسن صحيح، وأبو داود)
Artinya: Dari
Ibnu Abbas berkata: Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah Saw, lalu
beliau bersabda, “Wahai anakku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan
mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika
engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh
umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu
manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka
berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena
telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: hadits
hasan sahih; juga diriwayatkan Abu Dawud).
0 Komentar